Bekerja Dengan Baik Itu Membahagiakan


 

Selain mencari uang, dalam bekerja kita mencari ketenteraman hati. Ketenteraman itu merupakan salah satu modal penting untuk mencapai tujuan tertinggi manusia yaitu ‘meraih kebahagiaan’. Jika tidak tenteram, tidak mungkin bisa bahagia kan? Makanya, kita membutuhkan pekerjaan yang bisa memberikan ketenteraman. Tapi, apakah kita sudah mendapatkan pekerjaan yang menenteramkan itu? Jika pekerjaan kita ‘normal’ alias tidak aneh-aneh, maka sebenarnya kita sudah mendapatkan pekerjaan yang menenteramkan itu. Tinggal bagaimana kita menjalani pekerjaan itu saja. Karena ketidaktenteraman hati itu bersumber dari cara menjalani pekerjaan yang baik dengan sikap dan perilaku serta tindakan yang kurang baik.  
 
Akhir pekan kemarin, saya mampir ke sebuah minimarket. Di meja kasir ada papan promo bertuliskan seperti ini: “Isi pulsa 100 ribu akan mendapatkan 2 pcs goodtime 80gram”. Tapi bukan karena promo itu saya membeli pulsa. Memang saya membutuhkannya untuk perpanjangan layanan BB yang sudah diputus sejak semalam. Ketika hendak membayar, kasirnya bilang begini;”Karena bapak beli pulsa 100rb, bapak bisa membeli goodtime ini hanya dengan harga 1,500 rupiah saja,” katanya sambil menunjukkan kemasan kue kering itu.
 
“Maaf saya tidak membeli selain yang saya butuhkan Mbak,” begitu jawab saya. Lalu saya pun membayar sesuai yang disebutkannya.
 
Setelah struk saya terima dia mengatakan “Pulsanya sudah masuk ya Pak.” 
Saya langsung mengecek, dan benar; pulsa sudah masuk.Lalu saya bertanya;”Goodtime hadiahnya mana Mbak?”
 
Sang kasir agak terperanjat. Sepertinya tidak mengharapkan saya bertanya demikian. Namun, saya segera menegaskan bahwa dipapan promo itu jelas tertulis ada hadiah 2 pcs goodtime untuk pembelian pulsa 100rb. Saya mempertanyakan; “Kenapa bukannya langsung diberikan, hadiahnya kok malah dijual dengan harga khusus?”
 
Saya bisa menangkap wajahnya yang menyiratkan ketidaknyamanan. Lalu ada kata-kata yang diucapkannya. Entah pembelaan diri, entah permintaan maaf. Saya tidak terlampau memperhatikannya lagi. Yang saya perhatikan adalah; bagaimana sikap dan cara bekerja yang tidak baik membuat dirinya berada pada situasi yang sangat menegangkan. Bagaimana seandainya saya melaporkan perilakunya kepada manager toko? Bagaimana seandainya saya memperpajang urusan itu. Bagaimana seandainya……
 
Hal yang sepele kan? Iyya. Tapi urusan sepele seperti itu pun sudah bisa merenggut ketenteraman hati kita dalam menjalani pekerjaan. Apalagi jika yang kita lakukan itu bukan lagi urusan sepele. Semakin besar bentuk keburukan yang kita lakukan dalam pekerjaan, semakin besar pula perasaan tidak tenteram yang bersemayam didalam hati kita kan. Meskipun profesi kita ini baik, namun perilaku buruk kita menimbulkan kegelisahan.
 
Sudah banyak bukti yang kita saksikan tentang betapa orang-orang yang berperilaku buruk itu akhirnya mesti menerima konsekuensi dari keburukan yang pernah dilakukannya. Bukankah banyak orang yang memegang posisi strategis yang akhirnya mesti masuk bui ya? Banyak orang yang mestinya menikmati masa tuanya dalam kehidupan yang tenang eh, malah ditangkap polisi dan diperkarakan. Sisa hidupnya yang mestinya adem ayem itu malah dihabiskan dalam ruang sempit berjeruji besi.
 
Ah, Dang itu kan hanya berlaku bagi pegawai negeri.
Eh, siapa bilang? Bukankan para pegawai negeri itu juga menyeret rekan-rekan ‘bisnis’ swastanya masuk bui juga? Jadi nggak cuman pegawai negeri saja loh yang bisa ditangkap. Pegawai swasta juga. Banyak pegawai swasta yang diberhentikan secara tidak hormat, namun tidak terekspos saja dimedia. Jadi kita tidak tahu.
 
“Ah, itu sih salah mereka sendiri. Ceroboh. Coba kalau mereka hati-hati. Kan nggak ketahuan. Kalau nggak ketahuan yang nggak bakal dipermasalahkan!” ada juga yang berprinsip demikian. Makanya, meski tahu resikonya; masih saja banyak yang mau melakukan hal-hal buruk dalam pekerjaannya. Kalau ketangkep, ya itu lagi sial saja katanya. Lagian juga kalau di swasta mah hukuman paling beratnya juga cuman dipecat doang. Jarang ada orang di perusahaan swasta yang masuk penjara, katanya. Jadi, ya udah dijalani saja.
 
Yang saya khawatirkan itu sebenarnya bukan dipecat atau dipenjara. Justru saya lebih mengkhawatirkan hilangnya nilai-nilai kebaikan didalam diri kita. Karena kita terbiasa melakukan hal-hal yang buruk. Lalu kita ‘menikmati’ hasilnya. Maka kita jadi ketagihan untuk melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Bukankah hal itu juga merupakan penjara? Bukan penjara dalam pengertian harfiah, melainkan penjara yang mengerangkeng jiwa kita. Tampak luarnya saja kita ini orang bebas. Padahal jiwa kita, sudah terpenjara oleh dorongan dan hawa nafsu yang tidak mencerminkan nilai kemanusiaan kita.
 
Apalagi jika mengingat kita ini umat beragama. Ada persidangan lain yang melebihi persidangan manusia. Kalau sidang manusia mah, tinggal bayar pengacara handal saja. Bahkan media mengajarkan kepada kita betapa mudahnya membeli keadilan kan? Hakim dan jaksa saja banyak yang memperjualbelikan keputusannya kan kata media? Jadi, gampang banget untuk bisa lolos dari jerat hukum dunia. Tapi apakah kita bisa lolos dari jerat hukum Ilahi?
 
Pasti ada godaan dalam bekerja. Apalagi jika posisi yang kita pegang ini strategis. Godaannya datang dari luar dan dari dalam diri kita. Memang indah pada awalnya. Tapi keindahan semu itu membawa kita kepada akhir yang jauh dari ketenteraman dan kebahagiaan hakiki. Sedangkan menjalani pekerjaan dengan sebaik-baiknya; mungkin tidak menawarkan kita kemewahan dan penghasilan melimpah ruah. Hanya cukup saja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun kebersahajaan itu membuat kita tenteram lahir batin. Dunia akhirat.
 
Setidaknya, kita tidak harus membawa beban berat ketika kelak kita ditanya malaikat;”Bagaimana kamu menjalankan amanah pekerjaan yang dipercayakan kepadamu?” Kalau kita menjalani pekerjaan ini dengan baik, maka kita bisa menjawabnya dengan senang hati. Tenang. Dan tenteram kan? Bukankah untuk orang-orang yang melakukan kebaikan didunia Tuhan sediakan tempat bermukim yang baik dalam keabadian? Iman kita menyatakan bahwa menjalani pekerjaan dengan baik akan membawa kita kepada tempat kembali yang baik. Yaitu tempat dimana kebahagiaan hakiki yang didambakan oleh umat manusia berada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s