Pemasaran Via Layar Kaca, Baguskah?


Di jaman teknologi yang serba cepat ini kekuatan TV sebagai media promosi sudah tidak bisa diandalkan. Harus ada kreatifitas dalam menggunakan media ini sehingga akan ada banyak orang yang memperhatikan. Di tahun 80 s.d akhir millenium, TV merupakan media promosi yang sangat hebat. Perusahaan tidak perlu bersusah payah dalam memasarkan produk-nya, cukup dengan membuat video iklan (yang kadang sangat…sangat…membosankan) beberapa detik kemudian pasang di beberapa statsiun TV…tadaaa….penjualan di jamin meroket tajam.

Tapi itu dulu….sekarang para pemasar perusahaan itu harus berpikir berpuluh-puluh kali untuk memasarkan produk dengan menggunakan media TV. Para pemasar di tuntut harus kreatif dalam melakukan penempatan produk-nya. Indonesian Idol contohnya, mereka menggunakan juri sebagai ladang untuk menampilkan produknya (lihat gelas minuman bermerk, atau beberapa aksesoris bermerk yang diletakkan di meja mereka).

Untunglah di Indonesia Tivo atau TV-DVD yang berperan dalam men-skip (melewatkan) iklan belum banyak beredar seperti di USA (fakta: hampir 75% penonton TV di USA menggunakan Tivo di rumahnya). Sekarang tinggal tunggu waktu saja Tivo banyak diaplikasikan di Indonesia, so be careful guys.

Di tahun 2008, teknologi informasi berkembang sangat pesat terutama di bidang penyiaran independen dan web site. Contoh-nya adalah Podcast, Friendster, Youtube, Film-film bioskop, reality show, Facebook, Blog, dll. Ini menandakan konsumen memiliki kekuatan untuk mengekspresikan sendiri apa yang dipikirkannya. Jika produk anda buruk, sudah pasti produk anda akan terkenal dalam sekejap namun dengan citra buruk tentunya (konsumen tidak perlu memasukkan komentar ke surat pembaca, tapi bisa langsung melalui blog-nya).

Di akhir tahun 2007 s.d pertengahan 2008 ini sudah banyak pemasar-pemasar yang memasukkan unsur kreatifitas di dalam memasarkan produk via TV. Coba kita lihat iklan Pond’s yang bersambung dan menyajikan cerita yang menarik sehingga lanjutan sekuel iklan ini di tunggu oleh banyak orang. Meskipun produk Pond’s baru muncul di akhir iklan, namun banyak orang yang beralih ke produk ini. Luar biasa ! Itulah marketing di era globalisasi. Para penonton sudah jenuh melihat iklan yang hanya menampilkan produk..produk..dan produk (That’s Enough). Dan survey membuktikan bahwa iklan monoton seperti itu tidak akan membuat produk didalamnya terpatri dalam ingatan konsumen.

Oleh karenanya di setiap perusahaan besar yang mendapatkan sebagian besar konsumen melalui iklan layar kaca, haruslah memiliki departemen yang menaungi bidang pemasaran kreatif. Departemen ini nantinya bertanggung jawab dalam membuat, mengeksekusi, dan mempromosikan cerita yang akan disampaikan kepada penonton. Dengan semakin banyaknya pilihan produk dan perbedaan antar produk yang minim, dibutuhkan pemasaran yang kreatif. Saya menyebut departemen ini sebagai PH (Production House) Perusahaan.

Saat ini banyak sekali produk-produk yang masuk ke dalam program/acara TV seperti Empat Mata (Tukul), Dorce Show, Reality Show, Talk Show, dll. Mereka yang memasukkan produknya ke program-program berkelas seperti ini diyakini akan meningkatkan penjualan produknya. Meskipun begitu para pemasar harus selektif dalam memilih program. Anda bisa mengetahui program itu bagus atau tidak bisa dilihat melalui riset yang dilakukan oleh AC Nielsen, dan melalui survey independen.

Namun daripada membayar dengan harga yang sangat tinggi untuk memasukkan produk ke dalam sebuah program, lebih baik buat sendiri program dan beli jam tayang ke salah satu Statsiun Televisi. Resikonya memang besar sekali, karena jika program tersebut tidak banyak di tonton oleh orang (share), maka penjualan pun dipastikan tidak akan naik sama sekali dan bahkan mengalami penurunan. Namun resiko adalah sesuatu yang wajib di ambil karena jika berhasil program tersebut bisa di beli oleh pihak TV dan produk pun terjual laris di pasaran.

Contoh program sendiri adalah Garpu yang ditayangkan di Trans7 setiap hari minggu. Garpu adalah sebuah program yang menayangkan segala macam kegiatan yang dilakukan departemen perhubungan. Sangat disayangkan program ini tidak begitu diminati oleh para penonton, karena hanya menceritakan proses kerja dephub yang sangat…sangat…monoton (Saya tidak merekomendasikan program ini untuk di tonton). Seharusnya program ini di buat dengan cara bercerita seperti layaknya sinetron (Di dephub tidak ada departemen PH/kreatif).

Jika tidak mampu untuk membuat program, bekerjasamalah dengan para PH yang membuat serial-serial FTV misal FrameRitz. Bukan apa-apa, saya merekomendasikan PH ini karena FTV-nya selalu sukses dan ditayangkan di statsiun TV nomor 1 (sementara ini) di Indonesia yaitu SCTV. Dan penontonnya pun bervariasi mulai dari yang muda sampai tua, pria/wanita, dan berpenghasilan tinggi/rendah (silahkan anda survey sendiri ke AC Nielsen😉 ). Selain itu ceritanya pun sangat menarik, dan penonton akan rela menghabiskan waktunya di depan TV untuk melihat akhir dari FTV tersebut.

Namun perlu diingat bahwa penonton tidak suka apabila produk itu muncul secara biasa (diperkenalkan oleh si aktor/aktris). Kemunculan produk haruslah alami, dan tidak setiap frame, cukup beberapa kali saja (tirulah Pond’s). Jangan lupa untuk mendekati produser FTV, karena dengan begitu produk bisa muncul sesuai dengan keinginan perusahaan. 
ps: jangan lupa untuk saling bekerja sama, dan jangan saling menjatuhkan antara pemasar dan produser. Karena hal itu akan membuat kualitas program buruk (TRust Me!!!)

Selain TV,  para pemasar juga bisa memasukkan unsur produknya ke dalam film layar lebar (coba kalau kemaren saya bisnis di bidang kerudung, saya dekati Hanung dan produsernya untuk menggunakan produk saya di film ayat-ayat cinta). Namun film yang di pilih pun haruslah memiliki konsep yang bagu, jangan sembarangan memasukkan produk jika tidak ingin uang terbuang sia-sia.

Jadi pada umumnya pemasaran Via layar kaca masih memiliki potensi, namun harus dengan memasukkan unsur-unsur kreatifitas didalamnya. Karena jika tidak, pemasaran produk akan membuat perusahaan mengalami defisit finansial dan bahkan bangkrut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s