Refreshing ke Pantai Jayanti


Hari Sabtu tanggal 21 Juni s.d 22 Juni 2008 kemarin saya liburan bersama teman ke pantai jayanti di kota cianjur. Perjalanan kami mulai dengan menggunakan sepeda motor, kami berangkat dari bandung pukul 10.00 WIB.

Pukul 10.30 WIB kami berada di Banjaran untuk mencapai kota Soreang. Perjalanan menuju kota Soreang ini cukup menarik, karena kami disajikan dengan berbagai pemandangan mengagumkan.

Setelah melalui kota Soreang, kami melanjutkan perjalanan menuju Ciwidey. Bagi teman-teman yang sudah pergi ke kota ini pasti tahu kalau kota ini merupakan kota dingin yang mirip dengan lembang. Pemandangannya cukup mengagumkan, contohnya ini:

Setelah melewati kota Ciwidey kami mencapai daerah yang dinamakan dengan situ Patenggang. Di sinilah awal bencana menimpa kami. Jalan menuju Cidaun (daerah tujuan kami) terbagi dua di situ patenggang ini. Seharusnya kami berbelok ke Kiri alias ke arah Situ Patenggang, namun kami berdua terlalu percaya diri dan akhirnya kami berbelok ke arah kanan karena ada plang yang menyebutkan bahwa arah ke kanan adalah arah ke Cidaun. Ini lah foto kepercayaan diri kami:

Sekitar 2 jam kami berkelana ngga tau juntrungannya, sampai akhirnya kami menyerah dan membiarkan mulut kami berbicara untuk mengetahui di mana letak Cidaun sesungguhnya. Alangkah beruntungnya kami, kami menemukan sesosok wanita renta yang sedang menggotong hasil panennya (Situ Patenggang adalah daerah penghasil teh). Seketika itu juga kami menghentikan laju motor, dan bergegas menyapa si nenek. Lantas saya bertanya dengan menggunakan bahasa sunda yang saya ketahui (bahasa sunda saya kasar) di mana letak Cidaun. Si nini (nenek di sunda di panggil dengan sebutan nini) menyebutkan bahwa arah cidaun terus ke arah yang memang sedang kami lalui. Lantas teman saya nimbrung bicara (dengan bahasa indonesia), tapi si nini tidak tahu apa artinya karena dia cuma bengong menatap mata teman saya itu. Langsung saja saya bilang ke si nini bahwa kita mau melanjutkan perjalanan. Ketika kami bersiap melanjutkan perjalanan, eh si nini bilang begini “Sing atuh kasep, nyarios bahasa Sunda” kurang lebih artinya “Tolong cakep, bicaranya pake bahasa sunda”. Busyet…dalam hati aku cuma ketawa-tawa aja mendengar keluhan si Nini.

Yap…karena berdasarkan petunjuk si Nini kita harus melanjutkan perjalanan berdasarkan arah yang memang sedang kita lalui, lantas kita teruskanlah dengan rasa percaya diri pula. Jalanan menuju Desa Cidaun melalui jalan yang kami lalui ini benar-benar membuat sengasara. Bayangkan kita harus muter-muter mengelilingi jalan yang emang satu-satunya itu. Dah gitu jalannya rusak parah, saya bisa bilang kalau jalan itu sebenarnya bukan jalan, tapi batu-batu kali yang di buang sembarangan di jalan. Motor yang kami tumpangi sampai rusak Shock Breaker-nya (peredam).

Akhirnya setelah beberapa jam perjalanan, kepercayaan diri kami runtuh juga. Dan kami beranikan diri untuk bertanya kembali. Kami bertemu dengan orang yang hendak mengantarkan padi ke kota, lalu kami bertanya “berapa jam lagi sampai ke kota Cidaun”. Alangkah kagetnya kami, ketika disebutkan oleh dia bahwa perjalanan menuju desa Cidaun melalui rute ini mencapai 6 jam. Masya Alloh, berarti kami emang kesasar.

Ya sudah karena 6 jam adalah waktu yang lama, maka kami memutar balik motor dan melaju di jalanan rusak untuk mencapai SituPatenggang. Ini merupakan petualangan yang sungguh sangat menarik, karena perjalanan dan hambatan menuju tempat tujuan yang begitu banyak. Namun sayang saya tidak bertemu dengan si nini yang sudah memuluskan jalan kami menuju tempat yang salah. Kalau ketemu, tau deh mau diapain tuh nini.

Setelah melalui perjalanan balik selama 2 jam (total tersesat 4 jam), kami menuju arah situ patenggang. Di sini kami merasakan kekesalan dan kelelahan berangsur-angsur pulih, karena udara yang sangat dingin dengan kabut yang turun dengan lebat membuat kulit dan hati kami menjadi dingin (karena daerah dimana kami nyasar sangat panas). Apalagi kami melewati perkebunan teh yang luas dan besar. Sungguh senang hati mendengar suara kicauan burung yang sudah sangat jarang sekali ditemui di kota Bandung. Ini adalah gambar saya ketika berada di puncak gunung:

Singkat cerita akhirnya kami sampai ke Pantai Jayanti, dengan melalui perjalan yang sangat tidak menyenangkan. Setelah sampai kami beristirahat dan makan di Wisma yang sudah disediakan pihak penyelenggara. Setelah itu, kami pergi ke pantai untuk sedikit melepas lelah karena perjalanan yang memang menguras banyak tenaga kami. Pantai Jayanti ternyata cukup indah juga meskipun banyak karang (tipikal pantai selatan) dan ombak yang besar.

Foto-foto itu di ambil pada saat menjelang malam, namun saya cukup senang dengan hasil gambarnya yang bagus dan tidak gelap. Itu semua karena kamera Canon yang kami bawa.

Setelah itu kami melanjutkan acara di wisma. Saat itu ada dangdutan, namun sayang saya tidak terlalu tertarik dengan dangdut. Ya sudah alhasil saya cuma melihat acara itu dari kejauhan. Malam beranjak semakin larut, kami berinisiatif untuk tidur. Namun karena di kamar terlalu banyak nyamuk yang hilir mudik ngga jelas, akhirnya kami memilih untuk tidur di mobil saja.

Sekitar jam 5 subuh kami bangun dari tidur, segera kami ambil langkah menuju kamar dan menghadap kehadiraat alloh SWT selama kurang lebih 5 menit. Selepas itu kami menuju pantai yang sangat..sangat dingin sekali..Saya sampai harus menggunakan penutup kepala untuk menghindari dinginnya angin pantai saat itu.

Berbeda dengan di pantai-pantai lainnya, di Jayanti matahari baru terbit sekitar pukul 7.00 WIB, yah mungkin mataharinya masih bersembunyi di belakang-belakang karang tinggi.

Dipagi hari itu kami berolahraga bersama teman-teman di wisma untuk melakukan stretching akibat mengendarai motor yang cukup menyita banyak waktu. Setelah itu kami sarapan dengan nasi goreng keras dan telor goreng yang cukup berminyak. Sayang memang, Jayanti memiliki potensi untuk dijadikan tempat wisata namun infrastruktur dan kuliner-nya masih sangat jelek sekali.

Hari menjelang siang dan kami bersiap-siap untuk pulang kembali ke Bandung dan melewati jalan-jalan yang sebenarnya tidak pantas untuk dilewati. Karena motor kami rusak, ya sudah motor kami masukkan ke mobil pick-up dan kami numpang ke mobil Avanza.


Saya dan Teman

Ada saja kejadian menarik ketika kami melakukan perjalanan pulang. Mobil rekan kami ada yang menyenggol warga sana dan orang tersebut jatuh, entah dia mengalami luka yang fatal atau tidak namun rekan kami itu bisa mengatasinya dengan baik. Perjalanan pulang sangat membuat kami pusing dan ingin muntah, itu semua terjadi karena kami menggunakan mobil dan melewati jalanan yang berputar-putar lalu naik kemudian turun gunung lagi. Perut kami serasa di aduk-aduk.


Saya dan Mobil Avanza

Setelah melalui serangkaian perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami mencapai kota Bandung dengan selamat. Bodohnya kami, karena hari minggu sore adalah jadwal kami melakukan Futsal, bukannya pulang dan istirahat, kami malah melanjutkan bermain futsal di Antapani.

About these ads

2 thoughts on “Refreshing ke Pantai Jayanti

  1. ulang, karena saya petualang mancing mohon bantuan data-data catatan kondisi alam( jalan, kondisi ombak)

    maaf mas, saya ngga tau sampai sedetil itu! karena saya dulu hanya liburan saja. Tapi layak di coba!!!
    Terima kasih!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s